Rabu, 20 Juli 2016

Aku Hanya Ingin Menjadi Guru


Mentari pagi bersinar dengan cerah. ada secercah harapan yang digantungkannya untukku. Dengan langkah pasti, aku menapaki rerumputan yang masih basah oleh sisa - sisa embun semalam. Hati ku gembira, haru dan entah apa lagi rasa yang hadir di sana. Berjuta kata andaikan saling bergelembung untuk segera ku ucapkan. Namun yang lebih besar gelembungnya adalah andaikan emak masih ada.
Ya, jika hari ini emak masih berdiri bersama ku, mungkin dia akan lebih bahagia karena anaknya telah memiliki pekerjaan seperti yang pernah diimpikannya. Beberapa tahun silam, ketika rembulan menyapa bumi dengan lembutnya malam itu. Emak memanggilku, "Bujang...  sini nak, duduk sama - sama melihat terangnya rembulan."

"Lagi nggak enak badan, mak." jawab ku singkat dari dalam kamar.
"Hmmmmsss." terdengan hempasan napas mak. "Jarang - jarang lho nak kita punya waktu seperti ini, kamu kan tinggal di kos."
Akhirnya aku memenuhi permintaan mak, duduk disampingnya sambil bermanja ria. Lengannya yang besar membuatku selalu bergantung di sana, memeluknya laiknya seorang bayi yang masih ingin digendong oleh ibunya.
"Mak minta ma'af, mungkin mak hanya sanggup menyekolahkan kamu sampai di sini saja, mak tau kamu ingin sekolah, namun mak nggak kuat lagi."
Aku kaget dengan pernyataan mak barusan, "Mak, aku hanya ingin jadi Guru seperti ante mak, bukan yang lain, biayanya nggak bakalan mahal." 
Mak menarik napasnya dengan berat. "Mak tau nak kalo kamu ingin sekolah tinggi, ingin jadi guru seperti antemu itu, namun mak nggak kuat lagi, yang jelas selepas SMK ini sebaiknya kamu cari kerja saja ya, jangan stres ya nak, ma'af kan mak mu ini."
Dengan rasa kecewa kutinggalkan Mak begitu saja, dalam hatiku ada kebingungan, hampir seluruh temanku sibuk dengan brosur perguruan tinggi yang ingin mereka jajaki sementara aku harus mengubur dalam - dalam impianku. Aku memang tidak menyalahkan Mak, karena apa yang telah dia berikan sungguh sebuah pengorbanan yang tak akan pernah bisa ku balas, sepeninggalan ayah dialah yang menjadi tulung punggung keluarga ini. beruntunglah kakak kedua ku telah menikah, sehingga hanya aku dan kakak sulungkulah yang menjadi tanggungannya.
Tak pernah ku sangka jika permintaan mak untuk duduk berdua malam itu adalah permintaan terakhirnya. Karena malam itu juga mak mendadak sakit, disaat beliau sakit beliau selalu berkata, "Jangan stres ya nak, kamu pasti lulus kok, kan tinggal satu minggu lagi pengumuman kelulusan itu keluar, mak yakin kok anak bujang mak pasti lulus, kan anak mak pintar."
Aku hanya tersenyum dan tetap memilih diam untuk tidak mengomentari masalah tersebut. Malangnya, dua hari sebelum pengumuman kelulusan, mak pergi untuk selamanya. Aku bertambah bingung dantidak tahu arah. 
dan hari ini aku telah berdiri dengan seragam yang pernah ku janjikan. Ya, aku telah menjadi seorang guru. Walaupun aku hanya tenaga honorer dan berpendidikan SMK namun aku puas karena telah memenuhi janjiku pada mak.
Dan bila suatu hari ini aku harus berhenti dikarenakan alasan latar belakang pendidikanku, aku tak akan menyesali karena setidaknya janjiku untuk mak telah terpenuhi.